Home / Potensi / Peningkatan Produksi Ternak

Peningkatan Produksi Ternak

Indikator angka produksi ternak adalah produksi daging sapi dan kerbau. Tingginya harga daging sapi/kerbau menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga berpengaruh terhadap jumlah pemotongan ternak sapi/kerbau. Pola konsumsi masyarakat beralih ke konsumsi daging unggas (ayam/bebek). Produksi ternak periode 2011 – 2015 mengalami pertumbuhan yang negatif yaitu rata-rata -2,72 persen. Perkembangan produksi ternak tahun 2015 sebesar 991.407 kg. Dibadingkan dengan tahun 2014 sebesar 887.328 kg, maka terjadi kenaikan sebesar 104.079 kg (11,73%).

Tabel 2.8.    Capaian Produksi Ternak (Daging) Tahun 2011 – 2015

Gambar 2.  Keragaan Produksi Ternak (Daging) Tahun 2011-2015

Rumah Pemotongan Hewan adalah kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan hygiene tertentu yang digunakan sebagai tempat memotong hewan potong untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging bagi masyarakat.  Sebagai sarana pelayanan masyarakat (public service) dalam penyediaan daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), maka Pemerintah berkewajiban melaksanakan control terhadap fungsi RPH melalui pemeriksaan ante-mortem dan  post-mortem.  Hal tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kesehatan Masyarakat Veteriner.  Disamping sebagai penyedia daging yang ASUH RPH Martapura juga merupakan salah satu penghasil PAD bagi daerah.

Tabel 2.6.  Pemotongan Ternak di RPH Martapura Tahun 2011 – 2015

Jumlah pemotongan ternak sapi periode 2011-2015 mengalami penurunan rata-rata -14,52%, sebaliknya pemotongan ternak kerbau justru mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 58,46%.  Secara keseluruhan pemotongan ternak di RPH mengalami penurunan -9,51%.

Penurunan jumlah pemotongan disebabkan antara lain  tingginya harga daging sapi mengakibatkan daya beli masyarakat juga menurun dan beralih ke daging unggas atau ikan.  Selain itu penurunan juga disebabkan jenis/bangsa ternak yang dipotong sebagian berasal dari ras Limousin atau Simmental  yang mempunyai bobot jauh lebih besar dari sapi lokal/Bali.  Penurunan  jumlah pemotongan berpengaruh terhadap penerimaan PAD, mengingat saat ini tarif retribusi masih mengacu pada jumlah per ekor ternak yang dipotong bukan pada ukuran/bobot.